Liputan di Gunung Merapi Malam Hari


Jarak kami dengan puncak Merapi saat itu kisaran 2-3 km saja, jarak yang sangat tidak aman ketika jarak aman yang ditentukan saat itu kisaran 5 km dari puncak. Malam hari, gelap, mobil kami bersama mobil double cabin milik Polisi mengantarkan makanan dari posko Tlogolele ke rumah-rumah penduduk yang masih bertahan dan tidak mengungsi.

Itu sepotong pengalaman saya setahun lalu, di bulan Desember 2020 saat aktivitas Gunung Merapi naik, masyarakat mulai mengungsi dan tiap pekan kami bolak-balik ke lereng Merapi untuk mengirimkan amanah bantuan kemanusiaan.

Bagi seorang konten kreator di dunia kemanusiaan, terjun di daerah yang rawan bencana sudah menjadi hal yang harus dihadapi. Bukan untuk ditakuti, tetapi juga bukan lengah. Lalu seperti apa? Pertengahan dalam bersikap. 

Apa saja yang harus dipersiapkan ketika berada di dalam zona berbahaya seperti itu?

Pertama, berdoa tentu saja. Selanjutnya, mempersiapkan segala sesuatu dengan matang. Bencana bisa datang kapan saja, Merapi bisa erupsi, mengeluarkan awan panas hingga radius berapa tak pernah tahu. 

Kedua, persiapan peralatan. HT yang tersambung ke posko induk atau tehubung ke seismograf di menara pemantau. Sehingga ketika ada situasi berbahaya kita bisa segera tahu dan turun gunung dengan segera. Saat berdenging datar artinya aman atau tidak ada kegempaan, ketika ada kegempaan atau guncangan yang tidak beraturan seismograf akan mengeluarkan suara denging yang tidak beraturan.

Ketiga, perkap yang menempel di badan. HT tadi salah satunya, tetapi yang lain seperti senter, powerbank, multitools, sepatu dan pakaian lapangan dan perkap EDC yang suatu saat dalam kondisi bahaya bisa kita gunakan.


Keempat, berpikir kemungkinan terburuk. Ini berlaku bagi masyarakat yang ada di sana juga tim relawan yang ada di lereng Merapi. Motor dan mobil ketika diparkir sudah harus menghadap ke jalan, sehingga ketika sewaktu-waktu Gunung Merapi erupsi masyarakat bisa melarikan diri dengan lebih cepat. Di radius yang tidak begitu aman, masyarakat pun lebih memilih tidur di luar rumah sambil menyalakan api unggun dan tentu saja menyalakan HT yang terhubung ke posko.

Saat itu saya memasang aplikasi Maps 3D di iphone jadul saya, dan selama berkeliling mendistribusikan makanan selalu memantau, ini saya berada di berapa km dari puncak Gunung Merapi, jika sewaktu-waktu erupsi saya bisa menyelamatkan diri ke mana. Itu yang harus selalu dipikirkan ketika berada di zona berbahaya. 

Untuk urusan peralatan dokumentasi, diupayakan seringkas mungkin dan yang penting bisa mendapatkan apa yang dibutuhkan. Pertimbangan ringkas ini sangat dipertimbangkan karena jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan di Gunung Merapi, kita bisa menyelamatkan diri lebih cepat.

Semoga bermanfaat.

Comments

Popular Posts